Thursday, February 16, 2017

Hukum musik - 1

Dalam masalah musik, lagu atau nyanyian, sekian zaman terdapat dua pendapat di kalangan ulama. Dua pendapat itu yakni: kalangan mereka yang melarang musik dengan kalangan mereka yang membolehkan. Yang membolehkan lagu dan musik dengan landasan Al-quran (QS. Al- A’raf: 157): "dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka." Ayat lainnya dalam Al-Maidah ayat 4: "Mereka menanyakan kepada kamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik.”

Dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Bukhari dan Muslim, ketika kafilah dagang yang ditunggu-tunggu oleh mereka (orang-orang muslim yang sedang melaksanakan shalat Jum’at) telah tiba dengan membawa barang dagangan, maka serta-merta mereka menyambutnya dengan nyanyian dan tabuh-tabuhan, sebagai ungkapan rasa senang atas kafilah dagang yang datang dengan selamat, juga sebagai ungkapan do’a agar barang dagangannya serta sebagai harapan mendapatkan hasil dan keuntungan yang banyak.

Tabuh-tabuhan dalam hal ini adalah berupa alat musik yang dipukul (duff). Dalam sebuah riwayat duff ini banyak dimainkan oleh penduduk dari golongan Anshar. Pernah suatu ketika, isteri nabi, Aisyah, mendengarkan dua orang Jariyah memainkan duff disertai dengan lantunan lirik syair, dan Nabi pun membiarkan.

Riwayat dan kisah seperti disebutkan di atas menjadi landasan yang cukup kuat bahawa musik diperbolehkan. Tidak hanya itu, hadis ini menjadi dalil bolehnya lelaki mendengar suara Jariyah orang lain (asing), kerana Nabi Saw. pun mendengar hal itu. Nabi SAW tidak melarang Abu Bakar untuk mendengarkannya. Bahkan melarang apa yang dilakukan oleh Abu Bakar (yang akan mengusirnya), dimana dua Jariyah tadi dibiarkan melantunkan nyanyiannya sampai Aisyah r.a. memberikan isyarat kepada keduanya untuk keluar dari rumah Rasulullah s.a.w.

Dalam hadis shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan, dalam kitab nikah Bab: Dharb al Duff fi al Nikah Wa al Walimah (memukul Tambur selama pernikahan atau walimah), yang diterima dari Rubaayyi’ binti Mu’awwidz, beliau berkata: Rasulullah s.a.w datang pagi-pagi ketika pernikåhan saya, kemudian beliau duduk dikursiku seperti halnya kau duduk sekarang ini di depanku, kemudian aku menyuruh para Jariyah memainkan Duff, dengan menyanyikan lagu-lagu balada orang tua kami yang syahid dalam perang bàdar, mereka terus bernyanyi dengan syair yang mereka kuasai.
Hadis lain yang diriwayatkan Bukhari dan Imam Ahmad yang mengisahkan pernikahan kerabatnya Aisyah yang bersuamikan orang Ansor: Dari Aisyah r.a., bahawa beliau menghadiri pernikahan seorang wanita Ansor, maka Rasulullah s.a.w bersabda: Wahai Aisyah, apakah mereka tidak memainkan ”Lahwun”? Bukankah orang Ansor sangat suka permainan?

Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata: “Aisyah menikahkan orang Anshar kerabat dekatnya,” kemudian Rasulullah s.a.w datang sambil bertanya, “Sudahkah engkau memberikan hadiah untuknya?” Aisyah menjawab: “Ya, sudah”. Rasulullah s.a.w bertanya lagi “Sudahkah engkau mengirim orang untuk bernyanyi baginya?”Aisyah menjawab: “Tidak”. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya kaum Anshar adalah kaum yang suka akan senda gurau (Nyanyian suka-cita).”

Dalam suatu hadis disebutkan, ketika Rasulullah s.a.w hendak menuju perang, ketika kembali dari peperangan seorang datang menghampiri Rasulullah s.a.w seraya berkata:

“Wahai Rasulullah, sungguh aku telah bernazar, apabila engkau kembali dengan selamat aku akan menabuh Duff dan bernyanyi dihadapanmu.” Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila kau telah bernadzar, maka tabuhlàh sekarang, kerana apabila tidak maka engkau telah melanggar nazarmu.” Kemudian jariyah tersebut menabuh duff dan bernyanyi.

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Nasa’i dalam kitabnya ‘Asyrah al nisa’ dari Al-Saib bin Yazid, bahawa seorang wanita datang kepada Rasulullah s.a.w, kemudian beliau berkata: “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau mengenalnya?” Aisyah menjawab: “Tidak wahai Nabiyallah” Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda: “Dia itu Qaynah (orang yang suka melantunkan Syair) dari Bani Fukan, apakah kamu mau menyanyikan lagu untukmu?”. Maka bernyanyilah dia untuk Aisyah. 

Bersambung.....

No comments:

Tajuk

Abbasiyah (1) altruisme - ikram (3) Aqidah (1) art video (20) Bahasa dan penampilan (5) Bangsa Melayu (6) batas sempadan (9) Berita (15) Besi (1) Biography solihin (1) Budaya dan pengertiannya (16) catitan (2) cerdik/bodoh dan antaranya (6) cetusan minda (8) cinta dan syahwat (3) Doha - Qatar (2) Eid Mubarak (5) Fantasia falasi (3) Fibonacci (1) Filem (1) Fungsi seni (1) gangsa (1) hukum (6) huruf (2) hutang (1) ijtima (1) Iklan (2) imitasi dan memori (1) infiniti (5) jalan2 (2) kebangsaan/nationalisme (2) kebebasan bersuara (1) Kelahiran kesenian yang mengubah warna dunia. (1) Kembali sebentar tentang erti seni (Islam) (1) kerja otak (1) Kesenian dunia Islam (1) konsep kendiri (3) konspirasi (1) Lentok tangan (1) Malaysia (3) Maslahah atau mafsadah (1) Maya (ilusi) (4) Melayu (2) Melayu dan Islam (9) minda (2) musik (2) nukilan rasa (1) Pantang dalam berkarya (1) Pause (6) Pengajian dan pengertian budaya (1) Perasaan dan pemikiran (5) Persepsi / Tanggapan (6) pointillism (2) populasi dunia (9) Produk sejarah (11) Program dan hayat (2) prosa (4) ramadan (2) realiti - kenyataan (7) Sajak (21) Sangkaan (2) sebab dan akibat (18) sejarah (10) Sejarah mengubah/terubah (5) Sejarah seni dalam kehidupan insan (1) Sejarah video (1) Seni Bahasa (2) Seni dalam imiginasi (1) seni kata (1) Seni logam (3) Seni textil (budaya berpakaian) (2) Seni-seni mempertahankan diri (1) sound (1) Srivijaya (3) Sunda (6) Tahap kesederhanaan (1) Tahap-tahap kehidupan (14) tenung bintang (1) Terkesan dengan suasana (2) Tradisional dalam makna (1) Ukuran dan kayu pengukurnya (2) updated (1) Usia manusia (3) vision (1) wang (7) Wujudkah kosong? (2) zarzh slide (12)

Catitan lalu

Insuran & Road Tax Online

tetangga