zarch mind art

Mutalaah-mutakhir-munasabah fikir harian

Saturday, March 29, 2014

Taqwa, beza sahaba dan kita


- Bila para sahaba diberitahu; " Ittaqillah (takutlah pada Allah)", mata mereka akan berlinangan air-mata. Tetapi hari ini, bila seseorang memberitahu kita; " Ittaqillah (takutlah kepada Allah)" , kita merasa itu suatu yang memperkecil-kecilkan kita.

Thursday, March 13, 2014

Insiden MH370

)

Kapten Nurudin Abd Majid bendapat bahawa kita semua ter'hijab' oleh Allah kerana terlalu taksub dengan kecanggihan teknologi dan akal manusia. Semuanya menjadi buntu. Jawapan yang diberi juga jawapan yang buntu. Kita lupa bahawa ada satu lagi kuasa yang Maha Agung yang memiliki semua hal-hal yang nyata dan ghaib.
 

Baginya Ibrah (pengajaran) daripada peristiwa ini bahawa rakyat Malaysia khususnya mesti kembali merendah diri (agamawan, pemimpin dan rakyat jelata) kepada Allah SWT. Merayulah dan bertaubatlah kepada Allah agar dengan Rahman dan Rahim-Nya, dikembalikan MH370 kepada kita semua.

- Kapten Nurudin Abd Majid adalah bekas Ketua Pilot 777 MAS dan sekarang di lantik menjadi pilot peribadi Perdana Menteri Malaysia,beliau mengikuti kegiatan Jemaah Tabligh Malaysia sejak awal tahun 80-an lagi. Anak-anak lelaki dan perempuan beliau di hantar belajar agama di Madrasah Alimah di South Afrika dan juga di Madrasah Miftahul Ulum,Sri petaling.

Thursday, October 31, 2013

KERJA OTAK - 1



Kemajuan dalam pengetahuan mengenai sistem syaraf menunjukkan bahawa otak memiliki kemampuan untuk membentuk neuron-neuron baru sepanjang waktu, memperbaharui dan mengorganisasi ulang struktur syaraf diotak insan, sepanjang riwayat hidupnya (plasticity, Antonio Damasio).

Pembentukan susunan neuron-neuron baru ini boleh dikelompokkan menjadi 3 kelompok dasar:

(I) Memperkuat perilaku yang sebelumnya sudah dibentuk.
(II) Mengembangkan atau memodifikasi perilaku yang sudah dibentuk.
(III) Mengakomodasi perilaku baru yang sebelumnya, yang belum pernah dibentuk (dipelajari).

Ketika sebuah perilaku yang sudah terbentuk (sudah dipelajari) dilakukan untuk kedua kalinya, maka otak akan mengirimkan signal (elektrik & kimiawi), yang kemudian akan memperkuat jalur neuron (sehubungan dengan perilaku tersebut) yang sudah terbentuk sebelumnya. Semakin kerap sesuatu perilaku tersebut diulang, maka struktur neuron yang berkenaan perilaku tersebut akan menjadi semakin tebal dan kuat.

Dan semakin struktur itu menjadi kuat, semakin besar kemungkinan, orang tersebut akan melakukan hal yang sama (bereaksi dengan cara yang sama) yang pada akhirnya membuat struktur itu menjadi lebih kuat lagi. Demikian seterusnya, hingga sebuah kebiasaan pun akhirnya terbentuk.

Sampai pada titik ini, yang awalnya merupakan satu proses pembelajaran atau tindakan secara sedar, ketika sudah sampai pada peringkat tertentu, maka semakin lama semakin kurang kesedaran yang diperlukan untuk memicu sesuatu perilaku tersebut dimana otak akan membawanya kealam bawah sedar, iaitu sesuatu perilaku tersebut akan bekerja dengan sendirinya, tanpa memerlukan lagi fikiran yang sedar untuk memicu sesuatu perilaku tersebut.

Contoh yang mungkin mudah dilihat dalam kehidupan sehari-hari, adalah proses ketika mempelajari sesuatu yang baru, misalnya belajar memandu kereta. Pada awalnya, otak bekerja keras secara sedar, mengatur setiap perbuatan seperti menekan kopling, memasukan gear, melepasnya secara perlahan dimasa yang sama menekan minyak dan seterusnya. Kemudian, ketika perilaku ini dilakukan secara berulang-ulang, sedikit demi sedikit proses ini berpindah ke alam bawah sedar. Dan ketika seseorang sudah mahir memandu, maka semua proses ini dilakukan tanpa perlu memikirkannya lagi.

Dalam proses ini, setelah perilaku itu dikuatkan dengan dilakukan beberapa kali, maka ianya akan dibawa ke arah alam bawah sedar, di mana kemudiannya, sesuatu perbuatan tersebut dilakukan tanpa menunggu pikiran sedar untuk memerintahkan hal tersebut dan ini akan meringankan kerja otak serta membantu insan untuk terus belajar dan berkembang, tidak terhenti pada satu proses pembelajaran saja. Proses berpindah ke alam bawah sedar, membuat insan memiliki ruang untuk mempelajari sesuatu yang baru atau untuk memikirkan hal-hal lain yang lebih penting.

Namun ianya juga memiliki bahaya yang tersendiri seperti mempelajari satu perilaku yang merugikan, hal yang sama juga terjadi. Dimana ketika perilaku yang merugikan memasuki kealam bawah sedar, maka sulitlah bagi insan untuk berperilaku yang sebaliknya, lantaran perilaku buruk tersebut, pada titik itu, menjadi sebagian atau tabiat dari kepribadian tersebut.

Misalnya perilaku panas baran, di mana  biarpun pelakunya menyesal kemudian ketika kesedaran fikiranya mulai bekerja, namun demikian, perilaku yang sama akan kembali berulang, kerana hal itu sudah terakam di alam bawah sedarnya. Atau seperti disesuatu kumpulan masyarakat, kerap akan terjadi dimana muncul kesulitan besar ketika sebuah kebiasaan baru atau tertib yang baik hendak diterapkan, lantaran ahli-ahlinya telah bekerja mahupun berfikir dengan kebiasaan lama mereka sekian masa, sehingga perilaku tersebut (yang mungkin kurang efisien, merugikan atau bahkan berbahaya) sudah mengakar dialam bawah sedar mereka.

Saturday, October 26, 2013

Islam, sains dan teknologi dizaman Daulah Abbasiyah - 1



Selama beberapa dekade pasca berdiri Daulah Abbasiyah pada tahun 132H/750M, berhasil melakukan konsolidasi internal dan memperkuat kontrol atas wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Era kepemimpinan khalifah kedua, Abū Ja`far ibn `Abdullāh ibn Muhamad Al-Mansūr (137-158H/754-775M), menjadi titik yang cukup krusial dalam proses stabilisasi kekuasaan ini ketika ia mengambil dua langkah besar dalam sejarah kepemimpinannya. Iaitu; Pertama, menyingkirkan para musuh mahupun bakal calon musuh (potential and actual rivals) serta menumpas sejumlah perlawanan lokal di beberapa wilayah kedaulatan Abbasiyah; Kedua, meninggalkan Al-Anbār dan membangun Baghdad sebagai ibukota baru, yang kemudiannya menjadi lokus aktivitas ekonomi, budaya dan keilmuan dunia Muslim saat itu.

Berbicara mengenai gerakan penerjemahan yang terjadi di Era Abbasiyah sebenarnya tidak mampu dilepaskan dari upaya-upaya penerjemahan yang pernah dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah. Saat itu, usaha penaklukan besar-besaran yang menambah wilayah-wilayah di tiga benua, serta pada saat keamanan politik dalam negeri relatif stabil, sebuah upaya penerjemahan telah dilakukan meski dalam skala kecil.

Sebagaimana diceritakan oleh para sejarahwan, Khālid ibn Yazīd ibn Mu'awiyah pernah memerintahkan dihadirkannya sejumlah filosof Yunani yang bermukim di Mesir dan menguasai bahasa Arab untuk menerjemahkan buku-buku berbahasa Yunani dan Mesir Kuno (Qibti), khususnya yang terkait dengan ilmu medis dan kimia, ke dalam bahasa Arab. Selain itu, pada masa `Abdul Mālik ibn Marwān dan Al-Walīd ibn `Abdul Malik itu juga telah dilakukan penerjemahan dīwān dari bahasa aslinya, baik bahasa Pahlavi-Persia, Yunani maupun Mesir Kuno ke dalam bahasa Arab.

Suatu hal yang menarik untuk dicatat bahwa majoriti para penerjemah buku-buku kuno ke dalam bahasa Arab tersebut berasal dari warga non muslim (ahl al-dzimmah) seperti Yohana ibn Māsawayh, Hunayn ibn Ishāq, Ishāq ibn Hunayn, Hubaysh ibn al-A`sam, Tsābit ibn Qarrah al-Sābi'i, Yahya ibn al-Bitrīq, Iqlīdis ibn Nā`imah, Zarūbā ibn Mājwah al-Himsi, Āwī ibn Ayyub, Qustā ibn Lūqā, Astufun ibn Bāsīl, Salībā Ayyūb al-Rahāwi, Dārī` al-Rāhib dan lain-lain masih banyak lagi.

Selain gerakan penerjemahan, kemajuan ilmu dan peradaban Era Abbasiyah juga ditandai dengan berkembangnya ilmu-ilmu keislaman, ilmu sosial dan sains. Di bidang ilmu-ilmu agama, Era Abbasiyah mencatat dimulainya sistematisasi beberapa cabang keilmuan seperti Tafsir, Hadits dan Fiqh. Khususnya sejak tahun 143 H, para ulama mulai menyusun buku dalam bentuknya yang sistematis baik di bidang ilmu Tafsir, Hadits mahupun Fiqh.

Diantara ulama tersebut yang terkenal adalah adalah Ibn Jurayj (w. 150 H) yang menulis kumpulan haditsnya di Mekah, Mālik ibn Anas (w. 171) yang menulis Al-Muwatta' nya di Madinah, Al-Awza`i di wilayah Syam, Ibn Abi `Urūbah dan Hammād ibn Salāmah di Basrah, Ma`mar di Yaman, Sufyān al-Tsauri di Kufah, Muhamad Ibn Ishāq (w. 151H) yang menulis buku sejarah (Al-Maghāzi), Al-Layts ibn Sa'ad (w. 175H) serta Abū Hanīfah.

Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam di Era Abbasiyah tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu agama atau yang biasa diistilahkan dengan `ulūm naqliyah saja, melainkan juga disertai dengan kemajuan ilmu-ilmu sains dan teknologi.

Pada era Hārūn al-Rashīd dan Al-Ma'mūn sejumlah teori-teori astronomi kuno dari Yunani direvisi dan dikembangkan lebih lanjut. Tokoh astronom muslim yang terkenal pada era Abbasiyah antara lain Al-Khawārizmi, Ibn Jābir Al-Battāni (w. 929), Abu Rayhān al-Biruni (w.1048) serta Nāsir al-Dīn al-Tūsi (w.1274). [9]

Sedangkan Ilmu fisika telah dikembangkan oleh Ibn Al-Haytsam atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen. Beliau pula yang memegembangkan teori-teori awal metodologi sains ilmiyah melalui eksperimen (uji-cuba). Untuk itu beliau diberi gelaran sebagai "The real founder of physics". Ibn al-Haytsam juga dikenal sebagai bapak ilmu optic, serta penemu teori tentang fenomena pelangi dan gerhana.

Di bidang ilmu kimia era Abbasiyah mengenal nama-nama semisal Jābir ibn Hayyān (atau Geber di Barat) yang menjadi pioner ilmu kimia modern. Selain itu ada Abu Bakr Zakariya al-Rāzi yang pertama kali mampu menjelaskan pembuatan asam garam (sulphuric acid) dan alkohol. Dari para pakar kimia muslim inilah sejumlah ilmuwan Barat seperti Roger Bacon yang memperkenalkan metode empiris ke Eropa dan Isaac Newton banyak mengaut pengetahuan.

Dalam bidang kedoktoran muncul tokoh-tokoh seperti al-Kindi yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi. Atau juga Al-Rāzi yang menemukan penyakit cacar (smallpox), Al-Khawarizmi, Ibn Sina dan lain-lain. Disebutkan pula, sebagai bukti lain yang menggambarkan kemajuan ilmu kedoktoran era Abbasiyah, bahwa pada zaman Khalifah Al-Muqtadir Billah (907-932M/295-390H) terdapat sekitar 860 orang yang berprofesi sebagai doktor.

Friday, September 20, 2013

Syiah sesat



“Selain Dajal, ada yang lebih aku takuti atas umatku dari Dajal; iaitu para pemimpin yang sesat” (HR Ahmad).

Tajuk

Abbasiyah (1) altruisme - ikram (3) Aqidah (1) art video (20) Bahasa dan penampilan (4) batas sempadan (9) Berita (15) Biography solihin (1) Budaya dan pengertiannya (16) cerdik/bodoh dan antaranya (6) cetusan minda (8) cinta dan syahwat (3) Doha - Qatar (2) Eid Mubarak (5) Fantasia falasi (3) Fibonacci (1) Filem (1) Fungsi seni (1) hukum (6) huruf (2) hutang (1) ijtima (1) Iklan (2) imitasi dan memori (1) infiniti (5) jalan2 (2) kebangsaan/nationalisme (2) kebebasan bersuara (1) Kelahiran kesenian yang mengubah warna dunia. (1) Kembali sebentar tentang erti seni (Islam) (1) kerja otak (1) Kesenian dunia Islam (1) konsep kendiri (3) konspirasi (1) Lentok tangan (1) Maslahah atau mafsadah (1) Maya (ilusi) (4) Melayu dan Islam (9) minda (2) Pantang dalam berkarya (1) Pause (6) Pengajian dan pengertian budaya (1) Perasaan dan pemikiran (5) Persepsi / Tanggapan (6) pointillism (2) populasi dunia (9) Produk sejarah (11) Program dan hayat (2) prosa (4) ramadan (2) realiti - kenyataan (7) Sajak (21) Sangkaan (2) sebab dan akibat (18) sejarah (1) Sejarah mengubah/terubah (5) Sejarah seni dalam kehidupan insan (1) Sejarah video (1) Seni Bahasa (2) Seni dalam imiginasi (1) seni kata (1) Seni logam (1) Seni textil (budaya berpakaian) (2) Seni-seni mempertahankan diri (1) sound (1) Tahap kesederhanaan (1) Tahap-tahap kehidupan (14) tenung bintang (1) Terkesan dengan suasana (2) Tradisional dalam makna (1) Ukuran dan kayu pengukurnya (2) updated (1) vision (1) Wujudkah kosong? (2) zarzh slide (12)

Catitan lalu

Insuran & Road Tax Online

Tetamu-tetamu

HTML hit counter - Quick-counter.net
zarch-zürich. Powered by Blogger.

tetangga